Menghadirkan Komunikasi Produktif dalam Keluarga

Posted by

​Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Dalam kehidupan, komunikasi tentu saja berperan penting dan menjadi salah satu kunci kesuksesan dari segala sesuatu yang kita kerjakan. Kebahagiaan rumah tangga bisa terwujud dari komunikasi yang terjalin hangat antara suami dan istri. Kepribadian positif anak bisa diwujudkan melalui komunikasi yang membangun antara dirinya dengan orang tuanya. Keberhasilan sebuah proyek juga bisa jadi merupakan buah dari komunikasi yang baik antar orang-orang dalam proyek tersebut. Intinya, komunikasi yang baik, membangun, hangat, positif akan membuat aktifitas kita jadi produktif. Sekarang, PR-nya adalah bagaimana menghadirkan komunikasi produktif tadi dalam setiap sendi kehidupan, terutama dalam keluarga sebagai pilar utama kehidupan masyarakat. 

Syukurlah, komunikasi produktif menjadi bahasan pertama dalam kelas Bunda Sayang dari Institut Ibu Profesional yang sedang saya ikuti. FYI, Institut Ibu Profesional (IIP) adalah sebuah media belajar (biasa melalui online seperti group WA) untuk para wanita yang bercita-cita menjadi ibu profesional dalam menjalankan perannya, baik domestik maupun publik. IIP digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani, penggagas metode berhitung Jaritmatika dan juga ibu dari tiga anak homeschooler yang sukses. IIP memiliki kurikulum dan tahapan-tahapan tersendiri untuk melatih para wanita menjadi ibu profesional. Salah satu tahapannya dinamakan “Bunda Sayang”. Beberapa target dari tahapan ini adalah kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya dan kualitas dalam memberikan yang terbaik pada suami dapat meningkat.  

Balik lagi ke komunikasi produktif yang menjadi materi belajar di kelas Bunda Sayang. Diskusi yang berjalan seputar bagaimana berkomunikasi produktif dengan diri sendiri, pasangan, dan anak. Supaya selisih paham bisa diminimalisir dan maksud kita diterima dengan baik.

Komunikasi dengan Diri Sendiri

Dalam komunikasi dengan diri sendiri, pilihlah kata yang positif. Kata-kata itu bisa membawa energi, maka pilihlah kata-kata yang baik. Misalkan, kata “masalah” gantilah dengan “tantangan”. Kata “susah” ganti dengan “menarik”, dan lain sebagainya. Mendengar kata “masalah” bisa dipastikan seketika kita menjadi lemas. Sedangkan, ketika mendengar “tantangan” kita akan lebih bersemangat dan otak bekerja mencari solusinya. 

Komunikasi dengan Pasangan

Dalam berkomunikasi dengan pasangan, awalilah dengan kesadaran bahwa “kita dan pasangan” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya. Sehingga bisa jadi pasangan akan memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tata nilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, buku bacaan, pergaulan, indoktrinasi dll. Sedangkan, FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang. FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya. Komunikasi yang produktif akan berhasil membuat FoE/FoR-ku dan FoE/FoR-mu menjadi FoE/FoR KITA. 

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi dengan pasangan:

1. Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin disampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. 

Kalau saya, biasanya akan menulis di note atau WA dulu, poin-poin apa yang akan dibicarakan dengan pasangan. 

Setelah menyampaikan pesan pada pasangan, berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu dan suasana yang nyaman baginya untuk berkomunikasi. 

Kalau saya dan suami, lebih suka berdiskusi di malam hari sesudah makan malam. Anak-anak sudah tidur dan perut dalam keadaan kenyang membuat diskusi berjalan lebih lancar dan menyenangkan. Bahkan sesekali diselingi oleh canda tawa. 

Dua poin di atas menurut saya adalah kaidah utamanya. Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi dengan pasangan adalah bagaimana kita menyampaikan pesan padanya dengan sungguh-sungguh dan jujur. Atur intonasi dan bahasa tubuh. Tatap juga mata pasangan ketika berbicara. Tunjukkan bahwa kita benar memperhatikan dan mendengarkan. Terakhir, jika ternyata apa yang hendak kita sampaikan tidak dipahami dengan baik, kita cari cara lain dalam mengkomunikasikan pesan kita kepadanya. 

Komunikasi dengan Anak

Dalam berkomunikasi dengan anak, kita bisa mengingat bahwa “Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meniru”. Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Beberapa hal ini bisa diingat ketika berkomunikasi dengan anak:

1. Keep Information Short & Simple (KISS)

Sampaikan pesan dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti oleh anak. 

2. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Pada praktiknya, saya kadang masih sulit mengendalikan intonasi suara. Terutama ketika sedang emosi. 

3. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

Saya dan suami cukup sering mempraktikannya. Kami sering mengungkapkan harapan-harapan kami pada anak yang pertama. Ketika ia berulang tahun yang ke-5 seminggu lalu, kami mengajaknya berdiskusi, hal-hal apa yang ingin diperbaiki dan ditingkatkan darinya. 

4. Fokus ke depan, bukan masa lalu

5. Ganti kata “TIDAK BISA” menjadi “BISA”

6. Fokus pada solusi bukan pada masalah

7. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Pujilah/kritiklah anak dengan menyebutkan PERBUATAN/SIKAP apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan memuji/mengkritik diri anak tersebut. Contoh yang pernah saya lakukan pada anak: “Kak, Bunda bangga sama kamu, karena kamu sudah mau berusaha makan sendiri gak pake disuapin”. Alhamdulillah efeknya sekarang anak saya gak males-malesan lagi untuk makan sendiri. 

8. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

9. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

10. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati.

Menurut saya, hal ini perlu banget. Kita belajar merasakan apa yang dirasakan oleh anak. Dibandingkan marah-marah ketika anak misalnya mengeluh capek belajar, cobalah gali terlebih dahulu mengapa ia capek belajar. Misalkan, “Kakak, kalau capek belajar kita istirahat dulu sebentar. Kalau Kakak sudah siap, belajarnya bisa dimulai lagi. Apakah ada yang bisa Bunda bantu supaya Kakak siap belajar lagi?”

10. Ganti perintah dengan pilihan

***

Banyak sekali memang poin-poin yang harus diperhatikan. Kalau cuman dibaca dan diingat-ingat bisa jadi suatu saat lupa lagi. Butuh praktek dan penghayatan! Karena itu IIP memberi tantangan kepada para peserta untuk mempraktekkan apa yang sudah didapat selama 10 hari. Lalu menuliskan hasil pelaksanaannya di blog/media lainnya, selama 10 hari pula.

Tantangannya adalah untuk berkomunikasi produktif dengan keluarga melalui pengadaan family forum. Dalam pelaksanaannya, tidak terlalu berjalan mulus. Tadinya ingin setiap hari mengadakannya. Tapi tidak bisa karena waktu dan situasi tidak pas. Ketika suami pulang mengajar dan sampai di rumah malam hari, biasanya family forum ditunda dulu. Karena mempertimbangkan kondisi suami yang pasti lelah. Sedangkan ketika sedang lowong, terkadang bingung mau membahas apa di forum. Biasanya bisa bingung seperti itu karena tidak merencanakan apa yang mau dibicarakan.

Tapi, alhamdulillah, lega sekali karena saya lulus juga di tantangan 10 hari komunikasi produktif ini dan mendapatkan badge cantik yeeey!

Dari pengalaman 10 hari menjalankan tantangannya, ini beberapa hal yang bisa saya ambil sebagai pelajaran:

1. Komunikasi adalah hal penting dalam keluarga. Baik ke anak maupun pasangan. Penting gak penting yang mau disampaikan, usahakan selalu ada komunikasi. Cerita-cerita gak penting menurut saya juga punya manfaat, sebagai penghangat hubungan dalam keluarga. Baca cerita tentang hal tersebut di postingan saya ini. Klik: http://wp.me/p3ivM-hh

2. Jika ada hal-hal penting yang ingin disampaikan, tulis di note terlebih dahulu. Tulis poin-poinnya. Sampaikan pada pasangan bahwa ingin membahas poin-poin yang sudah ditulis dalam forum. Baca juga tulisan tentang ini di: http://wp.me/p8i6SC-ih

3. Penting sekali mencari waktu dan situasi yang tepat untuk bicara dengan pasangan. Jangan bicarakan hal penting ketika sedang emosi. Yang ada malah nambah masalah baru dan nangis-nangis bombay.

4. Anak sangat bisa loh diajak diskusi atau ikutan family forum. Ajaklah anak bercerita tentang yang dia rasakan hari itu, selami perasaan anak, apa yang membuatnya bahagia atau sedih. Apresiasi anak ketika ia berkata jujur mengenai kesalahannya. Bicarakan tentang konsekuensi dan reward, tentang harapan orang tua terhadap anak, tentang banyak hal lainnya. Anak bisa diajak berbicara layaknya kita berbicara dengan orang dewasa. Hanya saja gaya berkomunikasinya yang disesuaikan. Baca refleksi saya tentang ketika anak berbuat salah di: http://wp.me/p3ivM-hc

5. Buatlah jadwal tentang apa-apa saja yang ingin dibahas dalam family forum. Tidak harus soal masalah yang sedang dihadapi. Bisa juga diisi diskusi keilmuan seperti bersama-sama membaca siroh nabi atau buku-buku bagus lainnya.

6. Waktu 10 hari sebenernya dimaksudkan untuk “memaksa” agar kebiasaan berkomunikasi produktif itu dimulai. Semoga bisa konsisten menjalankannya walau tantangan 10 hari sudah usai. 

Selamat berkomunikasi produktif dengan keluarga! Semoga sharingnya bisa cukup bermanfaat ya. Kalau ada yang punya kiat-kiat lain dalam berkomunikasi produktif boleh loh menambahkan 🙂

***

Sumber bacaan:

_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_

_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *