Makan Sendiri di Luar Rumah? Bisa Dong!

Posted by

Tidak 24 jam saya dan anak-anak berada di dalam rumah. Justru kami cukup sering menghabiskan waktu di luar rumah. Salah satunya di toko milik saya dan suami. Toko bisa dibilang rumah kedua saya dan anak-anak. Hampir setiap hari, Senin-Jumat kami menghabiskan sebagian besar waktu di toko. Biasanya, dari siang sampai sore menjelang maghrib. 

Oleh karena itu, pasti ada masanya kegiatan utama seperti makan dilakukan di luar rumah seperti di toko atau di tempat lainnya ketika sedang berjalan-jalan. Biasanya sih pas makan siang. Kalo makan pagi dan malam selalu di rumah. 

Nah, makan siang akhirnya jadi salah satu ujian konsistensi saya dalam mengajarkan Hani makan sendiri. Karena biasanya, kalau di toko, ada eyang utinya yang sukarela membantu menyuapinya. Entah kenapa eyang-eyang memang suka nyuapin anak ya. Atau lebih karena kasian sih, takut cucunya kurus karena makannya sedikit.

Memberi Pengertian kepada Support System 

Mengatasi hal ini, saya coba memberi pengertian juga kepada eyang utinya selaku support system dari jauh-jauuuuh hari sebelum program makan sendiri ini digalakkan. Eaaaa ((DIGALAKKAN)). Saya cerita ke utinya kalau mulai usia 5 tahun nanti, Hani akan belajar lebih mandiri dengan makan sendiri. Jadi tolong jangan disuapin. Jika ingin membantu boleh tapi sebatas memotong-motong ayam atau daging yang hendak dimakan. Saya juga bilang ke utinya, jika Hani makannya lama, biarkan saja. Karena nanti ada konsekuensi yang akan ditanggungnya sendiri yakni rasa lapar. Tapi kayaknya ini anak gak pernah kelaparan makanan deh. Kalo kelaparan kegiatan mah seriiiing, minta main terus 😅😅

Sediakan Perlengkapannya

Lagi Makan Sendiri di Toko

Sama seperti ketika makan sendiri di rumah, saya juga menyediakan keperluan untuk makan di toko. Supaya Hani nyaman dan terkondisikan untuk makan sendiri. 
Gak ribet-ribet, kalau di toko, saya memanfaatkan kardus bekas yang cukup tebal untuk jadi “meja makan”. Kardusnya ditengkurapkan. Untuk piring/mangkok, gelas, sendok saya sediakan khusus untuk keperluan makannya dan disimpan di toko. Bahkan saya juga punya ceret listrik untuk keperluan memasak air panas jika diperlukan. 

Nah, gimana kalau makan di restoran atau tempat makan umum lainnya? Gak perlu sediain kursi atau meja sendiri sih haha. Cukup cari kursi atau meja yang nyaman aja untuk anak. Biasanya saya milih makan di lesehan, kalo di restoran tersebut menyediakan tempat lesehan. Atau makan di kursi yang jaraknya dengan meja tidak jauh/tidak tinggi.

Oya kalo lagi makan di resto, posisi duduk biasanya menentukan kelancaran makan. Karena saya masih menggendong bayi, maka Hani ” diambil alih” ayahnya. Hani selalu duduk di samping ayahnya supaya ayahnya mudah memberi pertolongan jika suatu saat dibutuhkan. Misalkan pertolongan untuk memotong-motong lauk di piring. 

Temani Makan

Ketika lagi makan di luar rumah, entah di toko atau di mana saja, biasanya akan lebih banyak hal yang mengalihkan perhatian anak. Baik karena suasana baru atau adanya teman-teman atau orang lain di sekitarnya. Hal ini biasanya membuat acara makan jadi lebih lama daripada biasanya. 

Saya dan suami tipe yang menghindari memberikan gadget atau tontonan untuk anak ketika dia sedang makan. Dulu sih kami sempat juga memberinya gadget atau tontonan kalau lagi makan supaya anaknya anteng sementara saya menyuapinya. Tapi makin ke sini, kami makin membatasi penggunaannya. 

Alhamdulillah ternyata bisa juga loh bertahan tanpa benda-benda tersebut. Gantinya, kami sebagai orang tua harus berperan sebagai penghibur anak. Temani anak ketika makan sambil mendengarkan apa yang dia ceritakan. Kebetulan, Hani memang anak yang suka bercerita. Bahkan ketika makan pun ia masih berceloteh. Kalau lagi gak waras biasanya saya sih sewot dan ngomel-ngomel haha. Kok banyakkan bicaranya daripada makanan yang masuk ke mulut 😛

“Makan jangan bersuara”, begitu kan lirik sebuah lagu. Tapi dipikir-pikir ya lebih baik sambil mengobrol daripada sambil sibuk sendiri dengan gadget atau tontonannya. Ngobrol santai sambil makan ternyata cukup membuat saya dan suami bisa mengorek cerita-cerita dari Hani. Cerita kegiatannya di sekolah, ketika ekskul, atau ketika dia bermain ke tetangganya di sebelah rumah. 

Sambil asyik ngobrol, gak kerasa makanan di piring pun lama kelamaan habis. Anak kenyang. Orang tua juga senang karena bisa mempererat bonding sama anak. 

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *