Melatih Mandiri berarti Melatih Anak Memecahkan Masalah

Posted by

​Dengan berlatih mandiri, anak tidak hanya belajar bagaimana menolong dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Anak juga belajar bagaimana memecahkan masalah. Adversity Quotient (AQ) anak atau kecerdasannya dalam menghadapi kesulitan/hambatan/tantangan akan distimulasi. 

Contohnya anak saya, Hani. Dalam melatih kemandiriannya makan sendiri ada beberapa hal di mana Hani ikut berpikir mengenai solusinya.

“Bagaimana ya supaya makannya habis tidak mubazir? Apakah Hani lebih baik mengambil nasi dan lauk pauk sendiri sehingga tau porsinya pas atau diambilkan semua oleh Bunda?”

“Jika Hani mengambil nasi sendiri, bagaimana caranya ya? Nasinya kan ada di rice cooker. Sedangkan rice cookernya tinggi posisinya”

Hani menggunakan kursi untuk membantunya mengambil nasi di rice cooker

“Untuk minum, supaya tidak mubazir juga, lebih baik diambilkan Bunda atau ambil sendiri ya?”

Hani mengisi botol minumnya sendiri. Itu botol minum yang akan dibawa sebagai bekal ke sekolah

“Aduh susah sekali memotong-motong ayam ini! Gimana ya caranya?”
Dan lain sebagainya.

Dari satu skill kemandirian yang diajarkan (baca: tantangan kemandirian) sudah banyak hal yang harus dipikirkan solusinya. Kalau untuk orang dewasa, tentu hal-hal yang muncul di atas sangat mudah diselesaikan. Namun buat anak-anak, hal tersebut adalah masalah yang menantang. Jika berhasil melewatinya maka kemampuannya dalam mengatasi masalah mengalami level up! Tapi jangan berhenti sampai di situ, tantangan berikutnya pasti menanti!

Melatih kemandirian ini memang penting sekali. Supaya anak-anak bisa melewati tantangan hidup. Supaya mereka bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit. Dan dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri.

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *