6 Kuliner Asik di Malang

Posted by

Jalan-jalan ke suatu daerah, gak lengkap kalo belum nyobain kuliner khasnya. Di postingan kali ini, saya mau cerita tentang kuliner-kuliner asik di Malang yang sempat saya datangi ketika berlibur ke sana minggu lalu. Kalau ada yang asli Malang dan mau nambahin list-nya monggo loh. Soalnya kemarin tuh kurang lama liburannya jadi belum semua dicobain deh :p *lalu dicubit pak suami* LOL

1. Bakso Bakar Bukaji (Bakso Bakar Jagoan)

Lokasi: Jl. Cokroaminoto no 02, Klojen, Malang

Jam Buka: 11.00-20.00

Delivery Order; +62341 364411

Tau tempat ini karena pemiliknya adalah orang tua dari teman anak saya di sekolah. Sebagai teman yang baik, eaaa, tentu saya sekeluarga menyempatkan diri untuk datang ke lokasi dan menyicipinya. Kebetulan rumah makannya gak jauh dari hotel yang kami tempati di Malang.

Kami datang ke outletnya di daerah Klojen. Sayang sekali gak ketemu sama yang punya karena beliau lagi ke Jakarta. Akhirnya kami ngobrol sama pegawainya dan melihat-lihat pajangan di dinding.
Ternyata, awalnya bakso bakar Bukaji ini adalah sebuah kios daging. Namanya sudah cukup melegenda dan terkenal dengan kualitas dagingnya. Kabarnya, yang cukup terkenal juga adalah bumbu rawonnya yang enak.

Kami pun tak sabar mencicipi bakso bakarnya. Terlebih saya yang memang penggemar bakso. Kami lalu memesan 10 pcs bakso bakar dengan harga Rp 28.000. Untuk 5 pcs kami pesan saos manis dan 5 pcs lagi pedas.

Bakso bakar ini endeeeus banget. Saos pedasnya juga enak! Pengen lagi..

Tidak menunggu lama, pesanan kami datang dan siap santap. Tampilannya menarik sekali. Disajikan dalam bentuk sate dengan isi 5 bakso per tusuk dengan taburan daun bawang dan bawang goreng. Rasa baksonya? Enak banget! Dagingnya berasa banget. Serius loh ini dari hati terdalam. Bedalah ya sama bakso-bakso di Jakarta yang lebih banyak komposisi tepungnya dibandingkan dagingnya. Walau ada juga bakso di Jakarta yang memang enak, seperti bakso Dino di Cinere favorit saya hihi.

Oya saosnya juga enak loh. Enak pake banget. Gak tau sih komposisinya apa, saya lupa nanya hehe. Tapi rasanya seperti ada kacangnya juga. Saos yang pedes itu pedesnya poooool. Bikin gembrobyos, keringetan. Untunglah makan baksonya ditemenin sama kuah isi bihun yang hangat dan sedap.

Menurut saya sangat recommended untuk dicoba! Bukan karena yang punya itu temen ya jadi direkomendasiin (ini salah satu faktor juga sih haha). Tapi emang enak kok. Sueer.

Pak suami.. Mukanya tolong dikontrol ya 😂

Selain bakso, di sini juga ada menu makanan lain seperti mie setrum. Pengunjung bisa memilih tingkat kepedasan dari mie ini, mulai dari yang tidak pedas hingga pedas level petir zeus (level 7). Hmmm gimana tuh rasanya ya. Pilihan minuman di sini juga cukup banyak. Tapi biasalah saya milih yang standar aja, teh manis hangat 😁😁

2. Bakso Bakar Pak Man

Lokasi: Jalan Diponegoro No. 19, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur

Jam Buka: 09.00-20.00

Masih soal bakso, kalo yang ini saya dapat rekomendasi dari tetangga saya yang dulu kuliah di Malang. Katanya ini paling enak. Ngomong enak gak enak sebenernya sih masalah selera ya hihi.

Karena penasaran sama rasanya, kami menyempatkan diri ke sana. Pertama kali mencoba datang malam sekitar jam 20. Tapi, udah habis dong baksonya. Wih penasaran kan, seenak apa ya. Akhirnya, besok paginya, sebelum pulang ke Jakarta, kami sempatkan datang. Alhamdulillah sekitar jam 10 sudah buka.

Bakso bakar Pak Man tidak disajikan dalam bentuk sate, baksonya langsung dipretelin di mangkok

Saya lantas memesan bakso bakar 10 pcs, dipisah per 5 pcs. Harganya Rp 30.000. Untuk teman makannya berupa kuah bihun diambil sendiri oleh pembeli atau self service. Kesan saya terhadap baksonya: enak! Tapi kok saya masih lebih suka sama bakso bukaji ya. Terutama untuk saosnya, beda sekali sama yang disajikan di bukaji. Suami saya pun berpendapat yang sama dengan saya. Lagi-lagi mungkin ini masalah selera ya. Untuk harga, di sini sedikit lebih mahal dibandingkan di bakso bukaji.

3. Ronde Titoni

Lokasi: Jl. Zainal Arifin No. 17, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur

Jam Buka: 18.00-24.00

Mampir makan di sini ketika malam hari. Ronde Titoni sendiri memang sudah tersohor di kota ini. Berdiri sejak tahun 1948, nuansa di warung ronde ini masih seperti warung-warung zaman dulu. Walau rame sekali pengunjung tapi tidak tergerus kemodernan zaman.

Suasana di warung Ronde Titoni yang selalu ramai
Daftar harga di warung Ronde Titoni

Pertama kali masuk clingak clinguk kayak orang bingung. Akhirnya saya serahkan saja pada pak suami mau pesan apa. Tak berapa lama menunggu, dua mangkok angsle dan satu mangkok ronde basah sudah terhidang di meja. Duh hangat dan sedap sekali. Mantab pas lah untuk dimakan saat malam hari.

Ini yang namanya angsle. Enak, manis dan gurih!

Ronde basah yang dipesan suami berisi bola-bola tepung ketan diisi kacang tanah yang disiram kuah jahe hangat. Ummm nyam! Kalau angsle yang dimakan oleh saya dan Hani, kuahnya manis-manis gurih tapi tetap terasa hangat di tubuh. Isinya macam-macam ada putu mayang, ketan putih kukus, tape singkong, roti, kacang tanah sangrai, dan kacang hijau rebus. Kuah angsle ini gurih karena menggunakan santan. Enak dan recommended! Oya selain ronde dan angsle, di warung ini juga ada cakwe loh. Ukurannya besar dan harga murah. Banyak juga yang beli untuk dibungkus lalu dibawa pulang.

4. Rawon Nguling

Lokasi: Jl. Zainul Arifin No.62, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur

Jam Buka: 07.00-15.30

Kami mampir ke rumah makan Rawon Nguling pada siang hari, sebelum pulang kembali ke Jakarta. Rumah makan ini sepertinya selalu ramai oleh pengunjung. Tapi hebatnya, pelayanannya tetap cepat loh.

Di sini, kami memesan 2 mangkok rawon. Ternyata satu mangkok saja isinya sudah sangat banyak! Padahal ya harga per mangkoknya hanya Rp 40.000. Dan isi dagingnya itu loh bener-bener banyak. Gak hanya banyak, tapi juga tetap lembut sehingga mudah dikunyah.

Rawon nguling yang sedap sekali!

Oya, selain rawon, yang menarik di rumah makan ini adalah hidangan pelengkapnya. Seperti tempe, perkedel, paru, babat, dan empal. Suami mengambil empal dan mencobanya. Cita rasanya manis dan empalnya juga empuk. Maknyusss lah pokoknya!
Kalian yang ke Malang, wajib banget nyoba rawon yang satu ini ya. Kalau boleh saran, satu mangkok cukup kok kalau dimakan berdua. Karena isinya sangat banyak. Kemarin saja, kami gak sanggup menghabiskan sehingga satu mangkok lagi dibungkus dan dibawa pulang ke Jakarta hihi.

5. Toko Oen

Lokasi: Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 5, Kauman, Klojen, Kauman, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur

Jam Buka: 08.00-21.30

Toko Oen, berdiri sejak 1930

Satu lagi pojok kuliner yang sudah legendaris banget dari kota Malang, yakni Toko Oen. Toko Oen ternyata sudah ada sejak tahun 1930-an, ketika zaman Penjajahan Belanda.

Bangunannya khas zaman kolonial Belanda dengan kursi-kursi rotan rendah yang disusun mengelilingi meja bundar. Di dindingnya, banyak pajangan foto hitam putih suasana Kota Malang di masa lampau.

Memasuki toko Oen kita disambut dengan spanduk dalam bahasa Belanda bertuliskan “Welkomm in Malang. Toko Oen Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft”. Kalau cari di Google Translate artinya β€œSelamat Datang Di Malang. Toko Oen adalah tempat untuk berkumpul & bersosialisasi sejak 1930”. Katanya sih, tempat ini dulu jadi favorit para sosialita Belanda untuk berkumpul sambil makan es krim.

Banana Split

Karena itu, sajian yang sangat khas dan terkenal dari Toko Oen ini adalah berbagai jenis es krimnya. Dilihat dari daftar menunya, ternyata Toko Oen juga menyajikan minuman beralkohol. Jadi, saya agak was-was juga untuk memesan makanan di sini (maaf mungkin saya lebay hehe). Akhirnya, saya hanya memesan satu mangkuk es krim “banana split” yang dimakan rame-rame. Untuk tekstur es krimnya berbeda dengan yang biasa saya makan. Saya agak sulit menjelaskannya. Tidak kental dan padat seperti es krim yang biasa terbuat dari susu. Tapi memang unik dan rasa tetap enak. Manisnya pun pas. Katanya sih, es krimnya memang dibuat secara manual dan tanpa pengawet

6. Rumah Makan Inggil

Lokasi: Jalan Gajah Mada No. 4, Kiduldalem, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur

Jam Buka: 10.00-22.00

Bagian depan rumah makan Inggil

Ini rumah makan apa museum ya? Batin saya ketika pertama kali masuk ke Inggil. Gimana tidak, baru masuk saja, kami sudah disuguhi display barang-barang antik zaman dulu. Ada piano tua, pemutar piringan hitam, poster-poster jadul, foto-foto hitam putih dari gedung bersejarah yang ada di kota Malang, koleksi uang zaman dulu, mesin tik juga mesin jahit tua, dan banyak lagi lainnya.

Koleksi topeng di rumah makan Inggil. Hani seneng banget ngeliatinnya
Ruangan dalam rumah makan Inggil

Lebih masuk ke dalam, barulah kita sampai di ruang utama rumah makan Inggil. Nuansa ruangannya tempoe doeloe sekali. Ada beberapa area di mana kita bisa makan lesehan, ada juga meja-meja makan tinggi yang dikelilingi oleh kursi makan yang tinggi nan kokoh. Semua terbuat dari kayu. Di pintu masuk ruangan, ada topeng-topeng yang disusun rapi. Sedangkan di tengah ruangan, ada semacam panggung besar yang biasanya dipakai untuk pertunjukan. Katanya sih suka ada pertunjukan di rumah makan ini, seperti pertunjukan tari tradisional, wayang, gamelan, ketoprak, keroncong hingga dangdutan.
Untuk makanan dan minuman yang disajikan khas Indonesia. Mulai dari nasi jagung, aneka penyetan, rawon, ikan goreng/bakar, ayam goreng/bakar, sate ayam, nasi goreng, dll. Beberapa minuman tradisional juga ada seperti wedang ronde, jamu, susu jahe dll. Untuk harga, jika dihitung-hitung termasuk murah, terlebih jika dimakan bersama rombongan. Satu porsi ada yang bisa dimakan beramai-ramai. Harga dimulai dari kisaran Rp 6.000 ke atas.

Oya awalnya rumah makan Inggil ini berdekatan lokasinya dengan Museum Malang Tempoe Doeloe. Tapi, baru sekitar bulan September 2016, museum berpindah tempat ke daerah Tumpang, Kabupaten Malang. Itu kata mbak-mbak penjaga toko suvenir yang terletak di depan rumah makan Inggil. Saya sempat berbincang dengannya ketika sedang melihat-lihat sekitar. Lokasi tepatnya di sekitar Pasar Sayur. Dipindahkan karena hendak ditempatkan di area yang lebih besar dan dijadikan sebuah area wisata sejarah yang tersentral.

* * *

Nah, kamu sendiri gimana? Udah pernah kulineran di Malang? Share dong paling suka ke mana. Terimakasih! πŸ™‚

13 comments

  1. saya belum makan yg bakso bakar pak man, tapi saya akui bakso bakar bukaji emang sip, baksonya full daging dan bumbunya syedap.
    selain rawon nguling, ada rawon dekat stasuin yg enak mbak. pernah ngajak temen dr semarang makan di situ

    1. iya mba, bumbunya itu loh enak banget ya. deket stasiun kereta mba? wah boleh juga kapan2 dicari kalo mampir lagi ke malang πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *