Hal Penting dalam Melatih Kemandirian Anak

Posted by
Kakak lagi dibiasakan makan sendiri

Menurut saya, melatih kemandirian anak adalah salah satu kewajiban orang tua yang harus ditunaikan. Bagaimana orang tua dapat menjadikan anak mampu menolong dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Tapi tunggu dulu, memangnya mandiri seperti apa sih yang dimaksud? Dan kenapa menjadikan anak mandiri itu penting?
Adversity Quotient

Mandiri di sini tidak hanya berarti anak mampu mengerjakan semuanya sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, tidur sendiri, dan lainnya. Hal-hal tersebut menurut saya hanya sebagian kecil dari kemandirian. Menjadikan anak memiliki kemampuan menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidupnya adalah bagian besarnya. Adalah Adversity Quotient (AQ) yang menggambarkan hal tersebut, bagaimana seseorang menanggapi semua bentuk dan intensitas dari kesulitan.

Seseorang dengan AQ yang tinggi tentu mampu mengendalikan setiap kesulitan. Bukan berarti ia tidak pernah gagal. Ia akan cepat bangkit dari kegagalan dan mencari solusi dari apa yang sedang dihadapi. Tentu kita ingin memandu anak-anak untuk memiliki AQ yang tinggi bukan? Karena itu, dengan melatih mereka belajar mandiri, berarti juga melatih mereka menghadapi masalah. Mencari solusi dari tiap tantangan. Melatih mereka mengendalikan kesulitan dari yang sederhana, yang dimulai dari dirinya sendiri, seperti berlatih mandi, makan sendiri sampai yang kompleks ketika mereka sudah dewasa nanti.

Kapan mulai melatih kemandirian anak?

Bisa dimulai sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi atau sejak usia 1 tahun. Gambarannya kira-kira seperti ini.

Usia 1-3 tahun

Pada usia ini, anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Latihlah anak-anak untuk bisa setahap demi setahap menyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri. Contoh: toilet training, makan sendiri, berbicara jika memerlukan sesuatu.

Usia 3-5 tahun

Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar dalam melakukan kegiatan sesuai keinginannya. Mereka cenderung mengikuti perilaku orang dewasa di sekitarnya. Contoh: mencuci piring, menyiram tanaman, menyapu, mengepel, dan pekerjaan rumah lainnya.

Anak usia sekolah

Bila dari usia 1 tahun sudah terbiasa distimulasi kemandiriannya, maka saat memasuki usia sekolah, anak-anak akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul motivasi dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam hidupnya.

Hal Penting yang Harus Diperhatikan

Melatih anak mandiri bukanlah persoalan gampang. Biasanya persoalan utama justru muncul dari “pelatih”nya itu sendiri alias orang tuanya. Gak sabar ngajarin anak, ingin anak cepat bisa, gak tegaan, gak konsisten dalam mengajarkan kemandirian adalah beberapa contoh hal yang biasanya dialami oleh orang tua, termasuk saya 😉 Yang perlu orang tua ingat adalah, melatih kemandirian anak ini biasanya suatu PROSES belajar yang cukup panjang dan melelahkan batin. Bukan sesuatu yang diperoleh dengan instan. Karena itu, stok kesabaran harus selalu diisi. Konsistensi harus terus dijaga. Semangat harus terus dikobarkan!!

Dari apa yang sudah saya alami, berikut ini beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam melatih kemandirian anak:

  • JANGAN TERGESA. Jujur, saya sendiri, sering rasanya memburu-buru anak. Saya gak sabar. Inginnya sih anak diajarin sekali dua kali langsung bisa dan lancar jaya melakukannya. Ingat, yang namanya belajar itu berproses. Apalagi belajar kemandirian. Menurut saya, di sini yang dilatih 2 hal. Pertama, mentalnya. Dan kedua, keahliannya atau skill untuk mandiri. Yang tadinya biasa “disayang-sayang” dan “dimanja” dengan ditolong oleh orang tuanya, tiba-tiba diminta untuk belajar melakukannya sendiri. Cukup berat untuk anak-anak, apalagi jika kita memburu-buru mereka. Khawatirnya, mereka malah mogok dan tidak mau meneruskan usahanya.
  • DAMPINGI ANAK BERPROSES. Terutama di awal-awal mereka belajar untuk mandiri. Temani anak sambil kita memberikan contoh atau teladan bagaimana melakukan sesuatu dengan mandiri.
  • KONSISTEN. Menurut saya, konsistensi ini adalah kunci keberhasilannya. Bagaimana kita sebagai orang tua bisa komitmen dan konsisten dengan aturan kemandirian yang sudah dibuat bersama anak.Konsistensi ini rasanya benar-benar diuji terutama ketika anak lama sekali mengerjakan prosesnya. Contohnya saya. Saya suka gemes banget ngeliat anak saya (umur 5 tahun) ketika sedang makan sendiri. Biasanya dari satu suapan ke suapan berikutnya jeda bisa 5-10 menit. Di sela-sela jeda itu, dipakainya untuk mengobrol (ya, dia sangat senang berbicara) ataupun mondar mandir ke sana sini. Belum lagi, kalau dia menolak makan sayur. Rasanya pengen langsung nyuapin aja supaya 15 menit kelar makannya dan gizinya tetap terjamin karena saya bisa memastikan bahwa sayur-sayuran di masakan masuk mendarat di perutnya. Tapi lagi-lagi ingat bahwa belajar mandiri ini adalah PROSES dan kita sebagai “pelatih”nya harus KONSISTEN.
  • HARGAI PROSES. BERI APRESIASI. Pujilah anak ketika ia berhasil menyelesaikan misi mandirinya. Beri ia apresiasi atas PROSES belajarnya, bukan hasilnya. Supaya anak paham bahwa yang disukai dari dirinya adalah ketika ia mau melakukan PROSES BELAJAR untuk menjadi lebih mandiri. Dan supaya ia tidak lelah jika suatu saat harus melalui PROSES belajar lagi. Karena kemandirian tidak didapatkan dengan instan. Apresiasi yang diberikan kepada anak bisa berupa hadiah-hadiah kecil. Atau cukup pelukan dan usapan hangat di kepala serta kalimat motivasi yang disampaikan tulus dari dalam hati.

Baca juga: “Aku Bangga Padamu!”

  • TERIMA KETIDAKSEMPURNAAN. Namanya juga belajar. Belum tentu hasil yang didapatkan langsung 100. Jika masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki tidak masalah, selama tidak berhenti untuk belajar menjadi lebih baik.
  • LAKUKAN DENGAN FUN. Ah ya, untuk poin ini kadangkala dalam prakteknya cukup berat. Jujur saja, saya sendiri masih berupaya terus supaya tidak bersumbu pendek ketika sedang menemani Hani berproses menuju kemandirian. Masih sering kelepasan emosi dan gak sabaran, pengennya Hani cepet bisa dan selesai melakukannya! Jadilah terkadang suasananya tegang. Terutama pas jam-jam makan, duh kayaknya saya ngomel mulu deh :’( Padahal teorinya saya sudah tau bahwa anak akan bisa belajar atau menerima sesuatu lebih banyak ketika hal tersebut dilakukan dalam keadaan fun atau menyenangkan.

Bagaimana denganmu? Punya tips-tips menarik dalam melatih kemandirian anak? Yuk berbagi di kolom Komentar 🙂

***

Terinspirasi dari kuliah Melatih Kemandirian Anak, kelas BunSay (Bunda Sayang) Institut Ibu Profesional (IIP) Depok

9 comments

  1. setuju, mbak. peran ortu sangat besar untuk membantu anak semakin mandiri. kalo terlalu dimanja ya salah, dipaksa keras juga salah. balance ya…dan butuh kesabaran ekstra ^ ^

  2. penyakitku banget itu -__-, ga sabaran… Padahal aku tau kalo proses anak sampai menjadi bisa , itu ga sebentar.. tapi kdg pgnnya anak bisa cepet ngelakuin segala sesuatu… makanya kalo udh gitu, biasanya aku menjauh mba.. bukannya ga peduli, tapi itu utk menghindari aku marah2 ke anak.. jd biasanya aku serahin ke papinya yg memang lbh sabar.. harus banyaaak lg bljr ngelatih kesabaran nih..

  3. Sama Mak. Suka gemes kalau pas membiarkan anak makan sendiri, makannya nggak kunjung dihabiskan. Apalagi kadang sayurannya disingkirin kalo nggak diingetin. Masih suka nggak sabar bundanya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *