Membantu Bunda Membayar Fidyah

Posted by

Bulan Ramadan sebentar lagi tiba. Saya mulai menghitung berapa hari hutang puasa saya dan bagaimana cara membayarnya. Tahun lalu saya tidak berpuasa karena habis melahirkan dan masih menyusui anak saya yang ke-2. Tahun ini? Saya ragu untuk bisa membayarnya dengan berpuasa juga. Karena saya sendiri khawatir dengan anak saya dan diri saya sendiri. Anak saya yang ke-2 terpaksa MP-ASI dini karena pertumbuhan beratnya kurang. Salah satunya karena produksi ASI saya yang tidak terlalu banyak. Suami pun menyarankan pada saya untuk tidak berpuasa di tahun ini karena mengkhawatirkan asupan ASI yang diberikan pada anak. Sedangkan saya sendiri juga lemas ketika berpuasa sambil menyusui.

Baca juga: Perjalanan MP-ASI Dini Sofia

Setelah mencari tahu dan membaca banyak artikel tentang cara membayar puasa untuk ibu hamil dan menyusui yang sejujurnya bikin pusing, saya sampai pada satu artikel di Republika. Artikelnya bisa dibaca di: Wanita Hamil dan Menyusui, Mengqadha Puasa atau Bayar Fidyah.

Di artikel tersebut dijelaskan juga pendapat dari kalangan ulama seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwa qadha bagi wanita hamil dan menyusui hanya membayar fidyah saja.

Mereka menganggap kondisi wanita hamil dan menyusui mirip dengan orang-orang yang lanjut usia, atau kalangan mereka yang tidak sanggup melaksanakan puasa. Ulama ini berdalil dengan firman Allah SWT, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fid-yah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. (QS al-Baqarah [2]: 184).

Dalam Bidayatul Mujtahid (jilid 1/ hal 63) disebutkan, kondisi ibu hamil atau orang yang menyusui lebih dekat qiyasnya kepada orang lanjut usia. Jika mereka tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab mengkhawatirkan kondisi dirinya ataupun bayinya, maka harus membayar fidyah tanpa perlu mengqadha.

Bismillah, jadilah saya berpegangan pada pendapat tersebut. Saya berniat untuk membayar fidyah melalui pemberian makan kepada orang miskin. Karena saya tidak berpuasa sebulan penuh maka saya membayar fidyah dengan memberi makan 30 orang miskin atau bisa juga dengan memberi makan 1 orang miskin selama 30 hari. Saya lalu mengajak Kakak untuk membantu persiapannya. Sebelumnya saya bercerita dulu apa yang hendak saya lakukan.

“Bunda mau bayar utang puasa. Bunda punya utang. Tahun lalu tidak puasa karena habis melahirkan adik dan lagi menyusui, jadi Bunda gak kuat, adik pun kasihan. Jadi, Bunda bayar utang dengan memberi makan orang miskin.”

Kemudian, saya mengajaknya untuk memesan nasi bungkus di warteg sebelah toko. Nasi yang saya pesan per porsinya sebesar Rp 15.000, disesuaikan dengan harga satu porsi makanan yang standar berlaku di lingkungan terdekat. 

Memesan nasi bungkus di warteg sebelah toko

Untuk hari ini, saya memesan sebanyak 10 porsi dulu. Rencananya akan dibagikan sepulangnya dari toko kepada 10 orang membutuhkan yang ditemui di jalan.

Membagikan nasi bungkus ke penyanyi dangdut keliling

Saya meminta bantuan Kakak untuk turut membagikannya. Kakak juga ikut mencari-cari di kiri kanan jalan kira-kira siapa saja yang akan diberikan nasi bungkus tadi. Dia antusias bertanya dan juga mengeluarkan pendapat.
“Bunda, aku bisa kok ngasih ke penyanyi dangdut di seberang jalan itu.”

“Bunda, kalau orang itu (Kakak menunjuk polisi cepek) dikasih gak?”

dan lain sebagainya.

Senang juga melihat Kakak jadi belajar untuk peka memperhatikan sekitar. Siapa kiranya orang-orang yang dikategorikan membutuhkan bantuan. Kakak juga jadi belajar bahwa yang namanya kewajiban (baca: puasa) memang harus dilaksanakan. Jika tidak, tetap dianggap utang dan akan ada konsekuensinya, bisa berupa qadha puasa atau membayar fidyah. 

#TantanganHariKeempatbelas

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *