Pengamatan Gaya Belajar Anak – Hari 2

Posted by

Anak saya yang pertama, atau biasa saya panggil Kakak bisa dibilang termasuk anak yang cukup rajin. Dia suka berkegiatan sampai-sampai seringkali dia yang mengadakan kegiatan untuk dirinya sendiri. Seperti hari ini, sambil menunggu saya yang sedang mengecek orderan toko di web, dia mengeluarkan buku kegiatan yang dibeli ketika kunjungan ke Gramedia Big Sale kemarin. 

Buku kegiatan (activity book) adalah salah satu jenis buku favoritnya. Kakak bisa duduk berlama-lama sendirian mengerjakan apa yang diminta di buku. Tentu saja, saya dan ayahnya tetap membantu ketika dia mengalami kesulitan. 

Kata Kakak, mengerjakan buku kegiatan itu ya mengerjakan PR. Dia kerap kali bilang, “Ah, aku harus mengerjakan PR dulu”. Rasanya geli mendengarnya. Karena sebenernya Kakak tidak pernah punya PR. Sekolah TK-nya tidak pernah memberikan PR. Pengajaran calistung saja baru di tahap perkenalan dan diberikan secara perlahan. Tapi, karena ini kemauan Kakak sendiri ya sudah akhirnya saya dan suami fasilitasi saja keinginannya.

Kali ini, Kakak mengerjakan soal yang bersifat matematika. Perintahnya adalah “Susun lambang bilangin dari yang terkecil”. Kakak lantas bertanya pada saya apa maksudnya. Karena Lalu saya menjelaskan dengan sedikit panjang lebar. Saya tuliskan angka 1-10 di kertas. Lalu saya bilang bahwa dari 1-10 angka yang paling kecil adalah 1. Letaknya di sebelah kiri dari barisan 1-10. Dia mengangguk-angguk. 

Lalu saya minta dia untuk melihat ke soal pertama. Ada angka 9, 4, 2, 1, 6. Saya lalu menguji apa benar dia sudah paham. Saya tanya mana ya yang paling kecil. Dia menjawab 2. Doeng. Sepertinya gagal paham. Lalu saya mencoba menjelaskan lagi seperti yang sebelumnya. Saya minta dia lihat urutan angka 1-10 yang sudah saya tulis. Urutan dari yang terkecil dimulai dari kiri tekan saya. Setelah itu, dia mulai bisa menjawab dengan benar. Tapi ada kalanya salah juga. Ah, pasti belum terlalu paham nih pikir saya. 

Saya mikir apa ya yang kira-kira membuatnya gak paham. Apa bahasa “paling kecil”? Mungkin dia tidak bisa membayangkan angka yang “fisiknya” paling kecil di antara angka 1-10 yang dicetak sama ukurannya di kertas. 

Lalu, saya mencoba mencari pengganti kata “paling kecil” dan merubah metode pengajarannya. Saya menggambarkan bulatan-bulatan kecil di kertas sesuai jumlah angka yang mau dibandingkan. Lalu saya ajak dia membandingkannya. 

“Kak, kalau 8 batu sama 5 batu lebih sedikit mana ya? Liat gambarnya deh”. Dengan lantang dia menjawab ” 5″. Lalu saya tes di soal berikutnya. Saya selalu menanyakan “mana yang lebih sedikit”. Dan dia bisa menjawab dengan baik. 
Di sini saya mengamati bahwa tipe visualnya sedang muncul karena dia dapat lebih mudah menerima penjelasan melalui gambar. 

#Tantangan10Hari

#Level4

#GayaBelajarAnak

#KuliahBunsayIIP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *