Pekan Literasi Keluarga Shidqi – Hari 3

Posted by

Jadwal membaca kami hari ini lebih santai. Karena temanya bebas. Maksudnya bebas memilih buku apa saja untuk dibaca. Mau buku lama dibaca ulang atau buku baru yang dibaca juga tidak mengapa. Saya dan suami masih mentok di membaca Al-Qur’an alias tilawah plus membaca(kan) buku untuk anak-anak. Padahal ada satu buku bergenre parenting yang belum juga saya tuntaskan baca sejak sebulan lalu.

Salah satu buku cerita seri Maisy

Untuk hari ini, Kakak membaca 2 buku. Pertama, buku berbahasa Inggris dari seri “A Maisy First Experiences Book” berjudul “Maisy, Charley and the Wobbly Tooth”. Kakak suka sekali dengan buku-buku seri Maisy. Karena cerita dan gambarnya sederhana. Mudah sekali dipahami oleh anak-anak. Dari buku Maisy ini, Kakak belajar bahwa ada yang namanya gigi susu/gigi bayi. Dan suatu saat, gigi tersebut akan copot lalu berganti “gigi dewasa”, begitu kata Kakak.

Buku bagus untuk dihadiahkan ke Kakak nih

Buku kedua adalah buku berbahasa Indonesia berjudul “Main Yuk, Dik”. Untuk buku ini, saya membacakannya dengan mengganti nama kedua tokoh utama menjadi nama Kakak dan Adiknya. Gak disangka, reaksi Adik cukup menggembirakan. Adik yang tadinya tiduran di kasur saja langsung duduk di samping saya dan melongok buku yang sedang dibaca. Mungkin dia merasa terpanggil karena namanya disebut-sebut hehe. Adik pun beberapa kali ikutan menunjuk gambar-gambar yang ada di buku seolah-olah paham apa yang sedang saya ceritakan. Dari buku kedua ini, Kakak mendapatkan ilmu bagaimana memperlakukan adik bayi dengan hati-hati sambil tetap bermain bersama.

Oya, berdasarkan gambar tahapan perkembangan membaca anak usia dini di atas, Kakak sudah masuk pada tahap “Take Off Reader Stage”. Kakak berada pada tahapan tersebut bahkan sebelum usianya menginjak 5 tahun. Dapat dibilang cukup cepat karena seharusnya tahap “Take Off Reader Stage” terjadi pada anak usia 6-7 tahun. Bahkan ketika pengambilan laporan perkembangan di sekolah tadi pagi, Kakak Guru mengatakan bahwa Kakak mengalami lompatan perkembangan. Saya tidak tahu apakah ini baik atau tidak ke depannya. Apa saja hal yang harus diwaspadai. Tapi yang pasti, Kakak berhasil mencapai tahapan membaca lebih cepat daripada seharusnya tanpa adanya paksaan dari saya dan suami. Kami sebagai orang tua sama sekali tidak menargetkan Kakak untuk bisa calistung sebelum masuk SD. Memasukkannya ke tempat kursus calistung saja tidak pernah ada dalam pikiran.
Kakak mempelajarinya dengan keinginannya sendiri. Pertama kali ia mengenal abjad ketika kami jalan-jalan ke toko buku dan Kakak melihat buku Wipe and Clean belajar alfabet. Kakak memaksa ingin memiliki buku tersebut dan jadilah saya membelinya. Saya pikir nanti juga bosan setelah dicoba beberapa kali. Ternyata, Kakak tidak bosan. Hampir setiap hari buku Wipe and Clean tersebut menemani aktivitas Kakak. Semingguan lebih Kakak tekun mengerjakannya, mengulang yang sudah dikerjakan sampai akhirnya ia hafal sendiri dan sekaligus paham bagaimana menulis huruf-huruf. Karena Kakak tertarik pada alfabet saya pun memfasilitasinya. Salah satunya via game di HP yang boleh dimainkan maksimal 30 menit setiap hari, buku aktivitas, atau via permainan-permainan yang saya buat sendiri. Tapi tetap semuanya dilakukan dengan fun, belajar sambil bermain, bermain sambil belajar. Hingga saat ini, ketika Kakak berusia 5 tahun 4 bulan, Kakak sudah bisa membaca buku sendiri (walau lebih sering minta dibacakan) juga paham menuliskan kalimat sederhana sendiri tanpa didikte, seperti “Ini dari Hania dan Ayah untuk Bunda” atau “Aku sayang Bunda”.

Semoga saja untuk seterusnya Kakak tetap rajin membaca dan menulis.

#BundaSayang

#IbuProfesional

#IIP

#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

#TantanganLevel5Hari3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *